3 PANDUAN BUDIDAYA TERONG DALAM POLYBAG

  • PERSEMAIAAN TERONG

Persiapkan media semai berupa tanah dan pupuk kandang dengan komposisi 1:2. Campurkan sekam supaya tanah menjadi gembur. Letakkan biji terong satu per satu ke dalam media semai. Siram semaian setiap pagi dan sore hari hingga menjadi bibit berdaun 2-3 helai.

  • PENANAMAN TERONG

Setelah bibit mulai tumbuh dan muncul 3 daun, pertanda bibit siap dipindah ke media tanam. Maka Anda bisa melakukan langkah langkah sebagai berikut:

  1. Persiapkan polybag yang akan anda jadikan media tanam, ukuran yang disarankan adalah sekitar 30 cm.
  2. Isi dengan campuran tanah dan pupuk (bisa kompos atau kandang) dengan perbandingan 1:3.
  3. Anda bisa juga menggunakan tanah semai kembali dengan menambah perbandingan pupuk nya sebesar 1, sehingga takaran menjadi tepat.
  4. Pindahkan bibit terong yang sudah Anda persiapkan ke dalam media tanam tersebut. Lakukan ini dengan sangat hati-hati supaya bibit tidak rusak.
  • PERAWATAN TERONG

  1. Pemupukan
    Siram tanaman terong 2 kali sehari pada pagi dan sore. Tapi kalau tanah masih lembab, maka Anda tidak perlu menyiramnya. Pada usia tanaman 3 minggu Anda bisa memberikan Pupuk Organik Cair atau NPK Anorganik ke tanaman secara berkala dengan interval 6-7 hari sekali.
  2. Perempelan
    Perempelan dilakukan dengan menghilangkan tunas bakal percabangan yang keluar di ketiak daun (tunas/cabang air) di bawah cabang “V” dengan menggunakan tangan yang bersih. Sisakan 2 – 3 tunas/cabang secara selektif yang paling sehat. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari ketika batang atau tunas tersebut masih mudah dipatahkan.
  3. Pemasangan ajir
    Pemasangan ajir atau turus dilakukan setelah tanaman selesai ditanam di bedengan. Tinggi ajir atau turus yang digunakan adalah 1,5 – 2 meter, bagian bawah yang dimasukkan ke dalam tanah 25 cm. Ajir atau turus dipasang miring ke luar (model “V”).  Pemasangan ajir dilakukan di setiap tanaman dengan jarak sekitar 10 cm dari batang tanaman. Setelah ajir atau turus dipasang, tanaman harus segera diikatkan di ajir atau turus tersebut dengan menggunakan tali rafia. Cara mengikatnya menggunakan simpul yang berbentuk angka delapan (“8”). Pengikatan tanaman dilakukan pertama kali di batang. Namun, setelah tanaman mengalami penambahan tinggi, pengikatan dilakukan di percabangan pertama.

 

 

  1. PEMANENAN TERONG

    Terong dipanen saat buah masih muda, mulai dapat dipanen pada umur 50 – 55 hari setelah tanam. Kriteria buah yang baik adalah dagingnya belum keras dan warna buah mengkilat. Waktu yang paling tepat untuk melakukan pemanenan adalah pagi atau sore hari sehingga buah tetap segar. Pemanenan dapat dilakukan seminggu dua kali. Potensi hasil per tanaman mencapai 21 buah atau 55 – 65 ton/ha.

  2. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

    Pengendalian hama dan penyakit yang diterapkan bersifat preventif dengan menyemprotkan pestisida secara teratur. Penyemprotan mulai dilakukan pada umur tanaman ± 1 MST menggunakan pestisida sesuai sasaran hama/penyakit & konsentrasi/dosis anjuran dengan jarak waktu semprot (interval penyemprotan) 4 hari. Penyemprotan dilakukan lebih intensif lagi jika terjadi hujan.

  • PENYAKIT MOSAIK (Cucumber Mosaic Virus)

Gejala serangan CMV cukup beragam, umumnya tanaman menjadi kerdil dan bunga gugur. Terdapat motif mosaic atau adanya gradasi warna hijau muda kekuningan dengan hijau tua. Pengendalian dengan melakukan sanitasi terhadap gulma, memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi,mencuci tangan setelah memegang tanaman yang terinfeksi,melakukan pengendalian terhadap hama vektor yaitu Aphid. Penanganan kimia dengan abamectin, deltametrin, alfa sipermetrin.

  • VIRUS KUNING (Tomato Yellow Leaf Curl Khancanaburi Virus)

Gejala daun menguning, keriting, ukuran daun lebih kecil. Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil dan ruas-ruas pada percabangan memendek. Seringkali jika menyerang pada fase generatif (pembungaan) kebanyakan bunga menjadi gugur. Pengendalian: Dengan monitoring perkembangan kutu kebul dari awal penanaman dan melakukan pengendalian kutu kebul, membuang dan memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi, melakukan sanitasi terhadap gulma yang merupakan inang alternatif dari kutu kebul. Pengendalian kutu kebul sebagai vektornya dengan pengaplikasian insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, metidation, dan diafenturion.

  • LAYU BAKTERI (Bacterial Wilt)

Gejala tanaman mendadak layu tanpa diawali gejala kekuningan pada daun. Batang utama tampak hijau dan tegak, sedangkan tangkai daun dan helaian daun tampak luruh jika pada siang hari. Namun, pada saat sore hari tanaman tampak segar kembali. Gejala lainnya bagian dalam dari batang (bagian pembuluh angkut) berwarna cokelat. Jika pangkal batang dipotong lalu dicelupakan pada air jernih maka akan muncul aliran bakteri menyerupai asap rokok. Pengendalian : Melakukan rotasi tanam dengan tanaman non-inang. Pencegahan dengan aplikasi belerang pada saat persiapan lahan. Pemupukan berimbang agar tanaman tidak terlalu sukulen. Mencabut tanaman yang sudah terinfeksi. Aplikasi bakterisida berbahan aktif streptomycine, asam oksolinik, dan dazomet.

  • BUSUK BATANG (Phomopsis Blight)

Gejala pembusukan pada bagian buah dan batang. Ciri khusus yaitu terdapat bintik-bintik hitam pada bagian terserang dangan pola konsentris (melingkar). Jika yang terserang adalah bagian pangkal batang, maka tanaman akan layu. Pengendalian: Menjaga kelembaban di sekitar tanaman agar tidak berlebihan, membuang tanaman yang terinfeksi. Aplikasi fungisida tebukonazol, mankozeb, difekonazol, heksakonazol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *