Vertikultur, Cara Simple Berkebun di Lahan Sempit ala Milenial. Ini 3 Jenisnya!

vertikultur

Vertikultur berasal dari bahasa inggris, yaitu vertical dan culture. Vertikultur merupakan teknik bercocok tanam diruang/lahan sempit dengan memanfaatkan bidang vertikal sebagai tempat bercocok tanam yang dilakukan secara bertingkat.

Pertanian dengan teknologi vertikultur dapat menerapkan beberapa model, tinggal disesuaikan dengan bahan yang tersedia, kondisi dan keinginan. Bahan yang dapat digunakan seperti bambu, pipa paralon, pot, terpal, kaleng bekas, bahkan lembaran pembungkus semen atau karung beras pun bisa. Intinya wadah yang bisa ditempati menanam dengan baik dan juga memberikan nilai stetika.

Beberapa model teknologi vertikultur yang dapat diterapkan adalah:

  1. Vertiminaponik

 Kombinasi antara system budidaya sayuran secara vertical berbasis pot talang plastik dengan aquaponik (budidaya ikan) atau dengan kata lain integrasi antara budidaya sayuran dengan ternak ikan. Media tanam yang digunakan adalah batu zeolit dan kompos.

  1. Walkaponik

Sistem budidaya sayuran yang juga diintegrasikan dengan ternak ikan. Prinsip dari walkaponik sama dengan vertiminaponik, yang membedakan adalah system budidaya sayuran yang menggunakan pot-pot dan disusun sedemikian rupa membentuk taman vertical, sehingga disebut walkaponik yang berasal dari kata wall gardening dan aquaponik. Media tanam yang digunakan adalah batu zeolit dan kompos.

  1. Model Wall Gardening

Sistem budidaya tanaman memanfaatkan tembok atau dinding yang kosong. Beberapa model wall gardening meliputi:

    • Wall gardening model terpal

Bahan yang digunakan adalah terpal yang dibentuk seperti tempat sepatu. Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah, sekam dan kompos/pupuk kandang

    • Wall gardening model paralon

Bahan yang digunakan adalah paralon atau bambu yang dilubangi sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Media tanamnya adalah campuran tanah, sekam dan kompos/pupuk kandang;

    • Wall gardening model pot plant

Bahan yang digunakan adalah pot dengan rangka besi atau balok sebagai penyangganya. Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah, seam, dan kompos/pupuk kandang;

    • Wall gardening model partisi/modul

Bahan yang digunakan adalah agro pro dan besi sebagai penyangganya. Media tanam yang digunakan adalah cocopeat dan pupuk kandang/kompos.

Sayuran yang akan ditanam sebaiknya disesuaikan dengan wadah yang tersedia atau kemampuan wadah dalam menyiapkan media untuk kebutuhan tanaman yang akan ditanam. Dengan teknologi vertikultur ini kita bisa menanam berbagai jenis tanaman misalnya seledri, cabai, terong, bawang kucai, mentimun, selada, bawang merah, tomat, kemangi, sawi, bayam, kangkung dan berbagai jenis sayuran lainnya yang penting tanaman jenis kecil dengan perakaran pendek.

Berikut adalah langkah-langkah dalam melakukan penanaman dan pemeliharaan dengan teknik vertikultur;

    1. Siapkan wadah penanaman, kemudian isi dengan komposis media yang telah ditetapkan
    2. Keluarkan bibit semai beserta medianya dari dalam wadah penyemaian
    3. Masukkan ke dalam wadah penanaman yang baru sampai  batas leher tanaman
    4. Padatkan media di sekitar permukaan media, lalu susun tanaman sesuai tingkatan berdasarkan kebutuhannya akan cahaya matahari
    5. Jika terlihat ada hama, segera ambil dan matikan. Jika tanaman terserang penyakit, cabut tanaman dan buang medianya, kemudian ganti dengan media dan tanaman yang baru
    6. Bila tanaman kurang subur, tambahkan pupuk kandang atau kompos yang telah matang
    7. Lakukan penyiraman atau penyemprotan secara rutin menggunakan sprayer dengan frekuensi dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari.

Namun, dibalik kelebihan yang dimiliki oleh sistem vertikultur, tidak bisa dipungkiri akan muncul suatu masalah pada sistem ini. Berikut ini adalah masalah-masalah yang mungkin akan muncul jika kita menerapkan sistem tanam vertikultur:

  • Pemberian pupuk yang cukup sulit

Pada sistem penanaman vertikultur, wadah yang digunakan untuk menampung media tanam bisa dikatakan terbatas. Memungkinkan kandungan unsur hara yang ada pada media tanam tersebut dapat habis karena digunakan oleh tanaman untuk proses tumbuhnya. Apabila unsur hara yang ada pada media tanam tersebut habis, maka dapat dipastikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat terganggu.

  • Hama dan penyakit yang mudah menyebar

Jarak tanam yang cukup rapat pada sistem vertikultur, beresiko akan hama dan penyakit yang menyerang tanaman dengan cepat menyebar dan berkembang. Terutama pada musim hujan, penyakit dapat secara cepat menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain.

Untuk mengatasi masalah ini, Anda lebih baik sering me-monitor tanaman Anda. Jika terdapat hama, Anda dapat mengendalikannya dengan perlakuan mekanis, seperti menangkan dan membuang hama atau bagian tanaman tersebut. Anda juga dapat mengendalikannya dengan membuat pestisida nabati yang disemprotkan ke tanaman yang terserang hama.

Jika terdapat tanaman yang terkena penyakit, Anda bisa mencabut kemudiam membuangnya ke tempat yang jauh dari lokasi penanaman. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penularan penyakit ke tanaman yang lain.

  • Mudah rusaknya media tanam

Sistem penanaman vertikultur yang dibuat menjulang ke atas, memungkinkan rusaknya media tanam yang disebabkan oleh cuaca ekstrim. Kurangnya ketelitian dalam pemasangan instalasi vertikultur juga dapat menjadi pemicu rusaknya media tanam.

Oleh karena itu, dalam pemasangan instalasi vertikultur, diperlukan ketelitian dan ketrampilan yang baik. Pemilihan tempat dalam pemasangan instalasi vertikultur juga harus diperhatikan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh cuaca yang buruk. Karena memakai wadah, Anda juga dapat memindahkan media tanam yang Anda gunakan ke tempat yang menurut Anda aman dari gangguan cuaca.

Berikut adalah beberapa keunggulan yang dimiliki oleh teknik ini sebagai teknik bercocok tanam.

    • Hasil panen lebih berkualitas
    • Dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat
    • Mendukung pertanian organik
    • Proses pemeliharaan lebih mudah
    • Tidak membutuhkan lahan yang luas
    • Penghematan dalam penggunaan pupuk
    • Proses pemindahan lebih mudah
    • Memiliki nilai estetika yang lebih

Bagaimana, berminat untuk mencoba menggunakan teknik tanam vertikultur?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Butuh Bantuan? Ingin Konsulasi? Hubungi Kami