Ingin Mencoba Tren Urban Farming? Berikut 5 tips untuk Anda!

Beberapa bulan terakhir, khususnya selama masa pandemi COVID-19 ini, tren urban farming atau berkebun di rumah kian diminati oleh masyarakat yang mayoritas tinggal di kota-kota besar. Konsep urban farming ini awalnya hanyalah inisiasi dari komunitas pecinta lingkungan yang kemudian bergerak secara masif sehingga menjadikan tren gaya hidup baru.

Untuk Anda yang sudah tidak asing dengan istilah urban farming, pastinya sudah paham, dong. Namun, apakah kalian sudah tahu beberapa tips dan manfaat dari tren ini? Yuk disimak!

urban farming

Menurut Wikipedia, Pertanian urban adalah praktik budidaya, pemrosesan, dan disribusi bahan pangan di atau sekitar kota.  Pertanian urban juga bisa melibatkan peternakan (poultry), budidaya perairan (aquaculture), wanatani, dan hortikultura. Dalam arti luas, pertanian urban mendeskripsikan seluruh sistem produksi pangan yang terjadi di perkotaan.

Lebih simple-nya, urban farming atau yang bisa disebut pertanian urban adalah sebuah konsep yang menyulap lahan perkotaan yang terbatas, seperti tempat tinggal, pinggir jalan, bahkan tepi sungai menjadi tempat berkebun yang produktif. Mayoritas masyarakat termotivasi untuk melakukan kebiasaan baik ini untuk mengonsumsi produk organik yang lebih sehat.

Dibawah ini adalah beberapa jenis tanaman yang dapat dibudidayakan dalam kegiatan urban farming.

  1. Sayuran hijau: Sawi, Selada, Seledri, Pak Choy, Kucai, Bayam hingga Kangkung.
  2. Tanaman herbal rempah: Jahe, Lengkuas, Sereh.
  3. Umbi-umbian: Ketela, Singkong, Talas.
  4. Buah-buahan: Tomat, Anggur, Strawberry, Cabai, Melon, Timun.
  5. Tanaman hias.

Tidak hanya tanaman, kegiatan urban farming juga mencakup kegiatan ternak dan budidaya. Beberapa hewan yang dapat diternak antara lain: Ayam, Kelinci, hingga Ikan.

Konsep urban farming sendiri sama seperti beternak dan bercocok tanam pada umumnya, namun yang menjadi perbedaan mendasar disini adalah, kegiatan ternak atau cocok tanam dilakukan dengan memanfaatkan ruang terbuka yang ada semaksimal mungkin.

Banyak metode yang dapat dilakukan dalam melakukan kegiatan urban farming. Diantaranya adalah:

1.Metode Vertikultur

Budidaya menanam secara vertikal menggunakan paralon atau botol secara bertingkat di ruang yang sempit. Tanaman yang cocok menggunakan metode ini antara lain: Seledri, Bayam, Sawi, Kucai, Anggur, Strawberry.

2. Metode Hidroponik

Budidaya menanam dengan menggunakan air tanpa tanah serta memperhatikan unsur hara. Tanaman yang cocok menggunakan metode ini antara lain: Selada, Timun, Melon dan tanaman herbal rempah.

  3. Akuaponik

Proses budidaya yang menggabungkan antara konsep budidaya menanam dengan budidaya perairan (Ikan) yang bersifat simbiotik. Tanaman yang cocok untuk menggunakan metode ini antara lain: Kangkung, Pak Choy, Selada dan juga Ikan seperti lele, mujair dan ikan mas.

4. Wall Gardening

Pada dasarnya, konsep wall gardening hampir sama dengan metode vertikultur. Hanya saja, yang menjadi perbedaan adalah, metode ini menggunakan dinding sebagai media tanam. Tanaman yang cocok untuk menggunakan metode ini antara lain: Tomat, Cabai, Umbi-umbian serta berbagai jenis tanaman hias.

Stigma repot dan sulit mungkin masih melekat dalam melakukan kegiatan cocok tanam. Namun, urban farming merupakan kegiatan bercocok tanam yang sangat mudah. Dengan memanfaatkan barang-barang tidak terpakai seperti; kaleng cat bekas, paralon, hingga botol air bekas dapat digunakan sebagai wadah penanaman. Untuk media penanaman sendiri, dapat menggunakan media non tanah seperti: Sabut kelapa, arang, hingga sekam. Perawatan dalam konsep urban farming ini dapat dikatakan mudah karena cukup disiram setiap hari serta diberi pupuk non kimia. Urban farming juga menerapkan konsep zero waste, karena sisa-sisa sampah dapur dapat dijadikan pupuk alami bagi tanaman.

Media yang dibutuhkan cukup sederhana, yaitu bidang yang berbentuk vertikal atau biasanya berupa tembok. Vertikultur digunakan untuk menanam tanaman yang berusia relatif pendek, misalnya selada, seledri, kangkung, sawi, bayam, dan berbagai jenis sayuran lainnya.Bahan yang diperlukan berupa botol bekas.

Tempelkan botol bekas kemudian gantungkan ke tembok. Isilah dengan media tanam dan bibit tanaman. Selain menggunakan botol bekas, bisa pula menggunakan pipa paralon atau bambu.

Rooftop di lantai dua yang berbentuk data bisa dimanfaatkan sebagai lahan bertanam. Bisa menggunakan teknik hidroponik, polybag, atau vertikultur. Rooftop ini digunakan untuk menanam tanaman dengan ukuran kecil. Sebelum bertanam di rooftop, pastikan konstruksi atap kuat karena akan digunakan untuk berat tanah, air, tanaman, dan orang yang berada di atas.

Taman rooftop atau biasa dikenal dengan istilah roof garden mampu meredam panas matahari yang masuk ke dalam rumah serta membantu mengurangi pemanasan global. Roof garden bisa dijadikan pula sebagai tempat bersantai di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *